MENGHENTIKAN PUASA SAAT PANEN PADI, BOLEHKAH?
Saat ini musim panen padi sepertinya akan bertepatan dengan bulan ramadlan lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, maka perlu kiranya untuk mengetahui apakah para pekerja seperti petani padi yang panennya bertepatan dengan bulan puasa diperbolehkan untuk tidak puasa atau boleh iftor jika ia memang berpuasa.
Untuk mengetahui hukumnya perlu kiranya untuk mempertimbangkan apa yang sudah disampaikan oleh petani langsung. Saat saya tanya para petani mempunyai tiga perimbangan mengapa ia harus berhenti dari puasanya saat masa panen, salah satunya adalah:
1. Karena panen Tidak Bisa ditunda pada bulan selanjutnya
2. Sulitnya menuai diwaktu malam jika sawahnya jauh dari perumahan
3. Sebagian masyarakat merasa dirinya tidak mampu untuk melanjutkan puasanya
Dengan tiga pertimbangan diatas maka ulama terjadi perbedaan mengenai bolehnya petani padi untuk tidak meneruskan puasanya saat panen sebagaimana berikut.:
Menurut imam ibnu hajar yang disampaikan beliau dalam kitab tuhfah, seorang petani diperbolehkan untuk tidak meneruskan puasanya saat musim panen bertepatan dengan bulan ramadlan dengan syarat
1. Tidak mungkin untuk panen pada bulan berikutnya.
2. Tidak bisa dilakukan pada malam hari, seperti lokasi sawah yang sangan jauh dari pemukiman warga.
Kebolehan ini beliau samakan dengan kasus perempuan yang sedang menyusui yang hawatir jika ia puasa akan menyebabkan kerusakan pada hal lain seperti anak, harta, dll.
Pendapat kedua (pendapat mayoritas), tetap wajib melakukan puasa bagi para petani padi saat musim panen bertepatan dengan bulan puasa, pendapat ini muncul karena kebolehan iftor pada bulan puasa hanya bagi mereka yang punya udzur serta mendapatkan legitimasi oleh syariat. Namun meskipun demikian saat panen padi bertepatan dengan bulan ramadan para petami diperbolehkan untuk tidak melanjutkan puasanya jika memenuhi bebrapa syarat:
1. Tidak mungkin dipanen pada bulan setelahnya.
2. Tidak bisa dilakukan pada malam hari.
3. Tidak mampun untuk melanjutkan puasanya (masyaqqoh) yang melebihi kapasitas kebiasaan (tidak kuat lagi untuk melanjutkan).
4. Tetap harus niat puasa pada malam hari dan tidak boleh iftor kecuali memang udzurnya sudah muncul.
5. Saat iftor harus niat untuk mengambil dispensasi dalam hukum syariat.
6. Pekerjaan memanen padi tidak ditujukan untuk wasilah agar tidak puasa saat bulan ramadan.
Pendapat diatas ini berlaku bagi petaninya langsung (yang punya lahan) atau juga berlaku bagi buruh tani yang bekerja untuk memanen padi.
Namun sebaiknya kalau kiranya masih kuat untuk nahan capek, lapar, lemes dan lain sebagainya, ditahan lahh, karena puasa satu hari dibulan ramadan pahalanya tidak akan sebanding meskipun digantikan dengan puasa setahun.
Referensi:
حواشي الشرواني
و يباح تركه لنحو حصاد أو بناء لنفسه أو لغيره تبرعا أو بأجرة وإن لم ينحصر الأمر فيه أخذا مما يأتي في المرضعة خاف على المال إن صام وتعذر العمل ليلا أو لم يغنه فيؤدي لتلفه أو نقصه نقصا لا يتغابن به هذا هو الظاهر من كلامهم وسيأتي في إنقاذ المحترم ما يؤيده خلافا لمن أطلق في نحو الحصاد المنع ولمن أطلق الجواز ولو توقف كسبه لنحو قوته المضطر إليه هو أو ممونه على فطره فظاهر أن له الفطر لكن بقدر الضرورة
بشر الكريم
ويلزم أهل العمل المشق في رمضان كالحصادين ونحوهم تبييت النية ثم من لحقه منهم مشقة شديدة أفطر، وإلا فلا. ولا فرق بين الأجير والغني وغيره والمتبرع وإن وجد غيره، وتأتي العمل لهم العمل ليلا كما قاله الشرقاوي. وقال في التحفة إن لم يتأت لهم ليلا، ولو توقف كسبه لنحو قوته المضطر إليه هو أو ممونه علي فطره جاز له، بل لزمه عند وجود المشقة الفطر، لكن بقدر الضرورة. ومن لزمه الفطر فصام صح صومه لأن الحرمة لأمر خارج، ولا أثر لنحو صداع ومرض خفيف لا يخاف منه ما مر.
بغية المسترشدين 234
مسألة) : لا يجوز الفطر لنحو الحصاد وجذاذ النخل والحراث إلا إن اجتمعت فيه الشروط. وحاصلها كما يعلم من كلامهم ستة : أن لا يمكن تأخير العمل إلى شوّال ، وأن يتعذر العمل ليلاً ، أو لم يغنه ذلك فيؤدي إلى تلفه أو نقصه نقصاً لا يتغابن به ، وأن يشق عليه الصوم مشقة لا تحتمل عادة بأن تبيح التيمم أو الجلوس في الفرض خلافاً لابن حجر ، وأن ينوي ليلاً ويصحب صائماً فلا يفطر إلا عند وجود العذر ، وأن ينوي الترخص بالفطر ليمتاز الفطر المباح عن غيره ، كمريض أراد الفطر للمرض فلا بد أن ينوي بفطره الرخصة أيضاً ، وأن لا يقصد ذلك العمل وتكليف نفسه لمحض الترخص بالفطر وإلا امتنع ، كمسافر قصد بسفره مجرد الرخصة ، فحيث وجدت هذه الشروط أبيح الفطر ، سواء كان لنفسه أو لغيره وإن لم يتعين ووجد غيره ، وإن فقد شرط أثم إثماً عظيماً ووجب نهيه وتعزيره لما ورد أن : "من أفطر يوماً من رمضان بغير عذر لم يغنه عنه صوم الدهر".
Jika masih ada yang belum paham, atau butuh diskusi silahkan hubungin nomor WA dibawah ini, 087771436321

Keren sekali, Kak.Mampir ke blog pribadi saya juga
BalasHapusApa nama blognya
HapusDher Allo SE malesseh tad
HapusKeren
BalasHapusKeren
BalasHapus